Jumat, 02 Agustus 2013

Penghuni Surga Terakhir


Gurun pasir (ilustrasi)
A+ | Reset | A-
Oleh Afriza Hanifa
REPUBLIKA.CO.ID, Rasulullah SAW pernah mengisahkan perihal ghaib di akhirat kelak. Tertawa sekaligus menangis ketika mendengar salah satu kisah akhirat, yakni tentang penghuni surga terakhir. Kasih sayang dan rahmat Allah yang luas tampak dalam hikmah kisah tersebut.
Alkisah, terdapat seorang yang berada di neraka. Ia terus berusaha melewati dahsyatnya panas api neraka. Terkadang ia mampu berjalan kaki, namun sesekali terjatuh telungkup, sering kali hangus dibakar api neraka. Jatuh bangun ia berusaha melewati siksaan demi siksaan. Acap kali berhasil selangkah, ia mengharap bantuan Allah. 
Dengan tertatih dan dalam waktu yang lama, ia pun berhasil meninggalkan neraka. Segera ia berseru, "Segala puji Allah yang menyelamatkanku darimu, hai neraka!" Tentu saja, dia bersyukur, karena tak ada yang mampu melewati neraka kecuali dia.
Namun, keluar dari neraka bukan akhir dari penderitaan atas hukuman bermaksiat di dunia. Ia masih merasakan panas yang sangat dan begitu kehausan. Ia pun melihat sekeliling dan tertuju pada sebuah pohon. Namun, jaraknya sangat jauh. Ia pun meminta kepada Allah agar mendekatkannya,
"Ya Allah, mohon dekatkan aku ke pohon itu. Aku ingin berteduh di bawahnya dan meminum airnya," pinta orang itu.
Allah pun bertanya padanya, "Wahai cucu Adam, jika aku dekatkan kau ke pohon itu, apa kau akan meminta hal lain lagi kepada-Ku?" Orang itu pun segera menjawab, "Tidak wahai Rabbku, aku berjanji tidak akan meminta hal lain," ujarnya yang tak sabar menikmati keteduhan di bawah pohon setelah sekian lama dihukum di neraka.
Saat itu, pohon yang di hadapan matanya sangat menggiurkan. Allah pun mengabulkan permintaannya. Ia pun berada di bawah pohon itu, kemudian segera meminum air darinya.
 Namun setelah itu, ia kembali melihat sebatang pohon yang lebih rindang dan indah dari pohon pertama yang ia telah berteduh di bawahnya.
Melihatnya, lupa sudah janjinya. Ia kembali meminta pertolongan Allah agar didekatkan pada pohon kedua itu. "Wahai Allah, mohon dekatkan aku ke pohon itu. Aku ingin berteduh di bawahnya dan meminum airnya. Aku tidak akan meminta hal lain lagi," pintanya.
Allah pun berfirman, "Hai cucu Adam, bukankah kau telah berjanji tak akan meminta hal lain?"  Orang itu pun menjawab, "Iya, benar ya Allah, tapi kali ini saja .... Aku benar-benar tak akan meminta hal lain lagi," pintanya, merengek.
Allah pun memaklumi dan dengan kasih sayang-Nya, Allah mendekatkan orang itu ke pohon kedua. Orang itu pun dapat berteduh di pohon yang jauh lebih indah dan rindang dari pohon pertama.
Namun ternyata, pohon kedua itu berada dekat dengan pintu surga. Setiba di pohon tersebut, ia mendengar suara penghuni surga yang diliputi kebahagiaan. Apa daya, ia tak kuasa ingin memasukinya. Lagi, ia melanggar janjinya dengan Allah. Ia kembali meminta kepada Allah, ia ingin agar Allah memasukkannya ke dalam surga. 
"Ya Allah ya Rabb, masukkanlah aku ke sana," pintanya, menunjuk pada surga yang kenikmatannya tak pernah terbayang oleh manusia di bumi. 
Allah Taala pun kembali berkata, "Hai cucu Adam! Hal apa yang membuatmu puas, apakah kau ingin Aku berikan dunia dan segala isinya?!" 
Orang itu pun menjawab, "Ya Tuhanku, apakah Kau tengah mengejekku .... Tentu saja Kaulah Tuhan pemilik alam semesta," ujarnya.
Allah pun tertawa seraya berfirman, "Aku tidak mengejekmu, tapi Aku Mahakuasa mewujudkan apa yang kau inginkan."
Maka, dimasukkanlah orang itu ke dalam surga dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Ia pun berkumpul dengan hamba Allah yang lain yang tak pernah menyekutukan-Nya. Dia pun menjadi orang terakhir yang masuk surga, sang penghuni surga terakhir.
Kisah tersebut dikabarkan oleh Rasulullah dalam hadisnya yang diriwayatkan Imam Muslim dari shahabat Abdullah bin Mas'ud. Dalam riwayat tersebut juga disebutkan bahwa Ibnu Mas'ud tertawa saat menceritakannya pada sahabat Rasulullah yang lain. Beliau tertawa saat mengisahkan bagian si penghuni surga terakhir menginginkan surga.
Saat bagian si penghuni surga terakhir berkata kepada Allah, "Ya Tuhanku, apakah Kau tengah mengejekku .... Tentu saja Kaulah Tuhan pemilik alam semesta," Ibnu Mas'ud pun tertawa. Ia berkata kepada orang-orang yang mendengar kisah itu, "Apa kalian ingin bertanya mengapa aku tertawa?" Para sahabat lain pun menjawab, "Iya, mengapa kau tertawa?" 
Ibnu Mas'ud pun menjawab, "Karena aku melihat Rasulullah tertawa (saat mengisahkan hal sama). (Saat mendengar kisah itu dari Rasulullah), aku pun bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, mengapa Anda tertawa?" Beliau pun menjawab, "Karena Tuhanku, Tuhan seluruh alam, juga tertawa," sabda Rasulullah.

Seni tadabbur Al-Qur'an (bagian 2)

Mutiara Ramadhan # 19: Seni tadabbur Al-Qur'an (bagian 2)

(Arrahmah.com) – Langkah pertama untuk mentadabburi Al-Qur’an, menurut Syaikh Isham bin Shalih al-Uwayyid dalam bukunya Fannu at-Tadabbur fil Qur’an al-Karim (Seni Tadabbur Al-Qur’an), adalah menghadirkan di dalam hati dan diri kita keyakinan penuh ~sebelum kita mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an~ bahwa Al-Qur’an adalah kekayaan paling berharga bagi kita.
Al-Qur’an adalah segalanya bagi kita. Al-Qur’an adalah ruh (nyawa), tanpanya kita adalah mayat yang berjalan. Al-Qur’an adalah cahaya, tanpanya kita buta dalam menapaki kehidupan di dunia. Al-Qur’an adalah petunjuk, tanpanya kita hanyalah binatang ternak yang tersesat.
Keyakinan itu harus kita hadirkan di dalam hati, perasaan dan pikiran kita sebelum kita mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an, untuk selanjutnya mempelajari kandungan maknanya.
Nilai dan kedudukan Al-Qur’an bisa kita perhatikan dari bagaimana Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mensifati Al-Qur’an dengan banyak sifat keagungan, kemuliaan, keberkahan dan kebaikan.
1. Al-Qur’an adalah al-haq [kebenaran]. Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ
Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dari kitab suci [Al-Qur'an]ini adalah kebenaran. (QS. Fathir [35]: 31)
2. Al-Qur’an adalah al-huda [petunjuk]. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan kepada mereka sebuah kitab suci [Al-Qur'an], yang Kami jelaskan atas dasar ilmu sebagai petunjuk dan kasih saying bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-A’raf [7]: 52)
3. Al-Qur’an adalah al-ilmu [ilmu]. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Sekali-kali orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani tidak akan rela kepadamu sampai engkau mengikuti ajaran agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar.” Dan seandainya engkau mengikuti hawa nafsu (keinginan) mereka setelah datang ilmu [Al-Qur'an] kepadamu niscaya engkau tidak memiliki pelindung dan penolong dari sisi Allah. (QS. Al-Baqarah [2]: 120)
4. Al-Qur’an adalah al-burhan [bukti yang nyata]. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ
“Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Rabb kalian.” (QS. An-Nisa’ [4]: 172)
5. Al-Qur’an adalah al-muhaimin [saksi dan pemberi keputusan]. Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
Dan Kami telah menurunkan kepadamu kitab suci Al-Qur’an dengan kebenaran, ia membenarkan kandungan kitab suci sebelumnya dan ia adalah muhaimin [saksi dan pemberi keputusan tentang kemurnian atau kepalsuan isi] kitab suci sebelumnya.” (QS. Al-Maidah [5]: 48)
Ibnu Abbas, Ikrimah, Said bin Jubair, Mujahid bin Jabr, Muhammad bin Ka’ab, Athiyah, Qatadah, Hasan al-Bashri, Atha’ al-Khurasani, As-Sudi, Abdurrahman bin Zaid dan para ulama tafsir berkata: “Makna muhaimin adalah menjadi penjaga amanat bagi kitab-kitab sebelumnya.”
Ibnu Juraij berkata: “Al-Qur’an adalah penjaga amanat bagi kitab-kitab sebelumnya. Apa yang sesuai dengan Al-Qur’an adalah kebenaran dan apa yang menyelisihi Al-Qur’an adalah kebatilan.”
Ibnu Abbas, Mujahid dan As-Sudi juga berkata “Muhaimin adalah saksi.”
Ibnu Abbas juga berkata: “Muhaimin adalah pemberi keputusan (pemimpin).” (Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, Tafsir al-Qur’an al-Karim, 3/128)  
6. Al-Qur’an adalah al-barakah [keberkahan]. Allah Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ
[Al-Qur'an ini adalah] kitab suci yang telah Kami turunkan kepadamu, dengan penuh berkah…”(QS. Shad [38]: 29)
7. Al-Qur’an adalah al-mau’izhah [nasehat]. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai seluruh umat manusia, telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian…”(QS. Yunus [10]: 57)
8. Al-Qur’an adalah as-syifa’ [kesembuhan dan obat]. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai seluruh umat manusia, telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian, obat penyembuh bagi penyakit ruhani di dalam dada…”(QS. Yunus [10]: 57)
وَنُنزلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami telah menurunkan Al-Qur’an sebagai obat penyembuh…”(QS. Al-Isra’ [17]: 82)
9. Al-Qur’an adalah at-tadzkirah [peringatan]. Allah Ta’ala berfirman:
فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ
Maka mengapakah mereka dari peringatan Allah [Al-Qur'an} berpaling? (QS. Al-Muddatsir [74]:  49)
10. Al-Qur’an adalah an-nur [cahaya]. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا
“Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Rabb kalian dan Kami telah menurukan kepada kalian sebuah cahaya [Al-Qur'an] yang terang.” (QS. An-Nisa’ [4]: 172)
11. Al-Qur’an adalah ar-rahmah [kasih sayang]. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai seluruh umat manusia, telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian, obat penyembuh bagi penyakit ruhani di dalam dada, petunjuk dan kasih saying bagi orang-orang yang beriman.”(QS. Yunus [10]: 57)
12. Al-Qur’an adalah as-shidq [kebenaran dan kejujuran]. Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Dan orang yang datang dengan membawa kebenaran [Al-Qur'an] dan orang yang membenarkannya, maka mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Az-Zumar [39]: 33)
13. Al-Qur’an adalah al-mushaddiq [yang membenarkan]. Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ
“Kitab [Al-Qur'an] yang telah Kami wahyukan kepadamu adalah kebenaran dan ia membenarkan kandungan kitab-kitab suci sebelumnya.” (QS. Fathir [35]: 31)
14. Al-Qur’an adalah al-’aliy [tinggi]. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan sesungguhnya Al-Qur’an berada di dalam kitab induk [Lauh Mahfuzh] di sisi Kami, sungguh ia bernilai tinggi dan penuh hikmah. (QS. Az-Zukkruf [43]: 3)
15. Al-Qur’an adalah al-karim [mulia]. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
Sesungguhnya ia [Al-Qur'an] adalah [kitab suci]bacaan yang mulia. (QS. Al-Waqi’ah [56]: 77)
16. Al-Qur’an adalah al-’aziz [perkasa]. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ
Dan sesungguhnya ia [Al-Qur'an] benar-benar sebuah kitab suci yang perkasa. (QS. Fushilat [41]: 41)
17. Al-Qur’an adalah al-majid [agung]. Allah Ta’ala berfirman:
بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ
Bahkan ia [Al-Qur'an] adalah [kitab suci] bacaan yang agung. (QS. Al-Buruj [85]: 21)
18. Al-Qur’an adalah al-furqan [pembeda antara kebenaran dan kebatilan]. Allah Ta’ala berfirman:
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha Berkah Allah Yang telah menurunkan Al-Furqan [Al-Qur'an] kepada hamba-Nya (Muhammad) agar ia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam.” (QS. Al-Furqan [25]: 1)
19. Al-Qur’an mengandung bashair [pandangan-pandangan hati yang tajam]. Allah Ta’ala berfirman:
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Al-Qur’an ini adalah bashirah-bashirah, petunjuk dan kasih sayang bagi kaum yang yakin. (QS. Al-Jatsiyah [45]: 20)
Imam Muhammad Thahir bin Asyur at-Tunisi berkata: “Bashair adalah bentuk plural dari bashirah, yaitu kemampuan akal [hati] memahami hakekat perkara-perkara.” (Muhammad Thahir al-Tunisi, At-Tahrir wa at-Tanwir fi at-Tafsir, 25/350)
20. Al-Qur’an adalah muhkam [kokoh dan penuh hikmah]. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan sesungguhnya Al-Qur’an berada di dalam kitab induk [Lauh Mahfuzh] di sisi Kami, sungguh ia bernilai tinggi dan penuh hikmah. (QS. Az-Zukkruf [43]: 3)
21. Al-Qur’an adalah mufashal [dijelaskan secara terperinci]. Allah Ta’ala berfirman:
كِتابٌ فُصِّلَتْ آياتُهُ قُرْآناً عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan secara terperinci, sebagai sebuah kitab bacaan dalam bahasa Arab bagi kaum yang mengetahui. (QS. Fushilat [41]: 3)
22. Al-Qur’an adalah ‘ajab [menakjubkan]. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقالُوا إِنَّا سَمِعْنا قُرْآناً عَجَباً
Katankalah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya segolongan jin mendengarkan dengan seksama [bacaan Al-Qur'an], lalu mereka mengatakan: ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang mengagumkan’.” (QS. Al-Jin [71]: 1)
23. Al-Qur’an adalah balagh [penyampai berita dan amanat]. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ فِي هَذَا لَبَلاغاً لِقَوْمٍ عابِدِينَ
Sesungguhnya pada Al-Qur’an ini ada penyampaian berita gembira kepada kaum yang tekun beribadah [kepada Allah semata]. (QS. Al-Anbiya’ [21]: 106)
24. Al-Qur’an adalah basyir dan nadzir [pemberi berita gembira dan pemberi berita ancaman]. Allah Ta’ala berfirman:
بَشِيراً وَنَذِيراً فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ
Sebagai pemberi berita gembira [bagi kaum beriman] dan pemberi berita ancaman [bagi kaum kafir dan pelaku kemaksiatan], akan tetapi mayoritas manusia berpaling darinya sehingga mereka tidak mau mendengarkannya.”(QS. Fushilat [41]: 4)
25. Al-Qur’an adalah bayan dan tibyan [penjelasan paling terang]. Allah Ta’ala berfirman:
هَذَا بَيانٌ لِلنَّاسِ وَهُدىً وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
[Al-Qur'an] ini adalah penjelasan bagi umat manusia, juga petunuk dan nasehat bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran [3]: 138)
وَنَزَّلْنا عَلَيْكَ الْكِتابَ تِبْياناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدىً وَرَحْمَةً وَبُشْرى لِلْمُسْلِمِينَ
Dan Kami telah menurunkan keapdamu sebuah kitab suci [Al-Qur'an] sebagai penjelasan atas segala perkara, petunjuk, kasih sayang dan kabar gembira bagi kaum muslimin. (QS. An-Nahl [16]: 89)
Subhanallah…
Dari sebagian sifat Al-Qur’an di atas, kita akhirnya akan bisa menyadari alangkah besarnya kerugian kita ketika kita jauh dari mempelajari, mentadabburi dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

Seni tadabbur Al-Qur'an (bagian 3)


Mutiara Ramadhan # 22: Seni tadabbur Al-Qur'an (bagian 3)


(Arrahmah.com) – Langkah pertama untuk mentadabburi Al-Qur’an, menurut Syaikh Isham bin Shalih al-Uwayyid dalam bukunya Fannu at-Tadabbur fil Qur’an al-Karim (Seni Tadabbur Al-Qur’an), adalah menghadirkan di dalam hati dan diri kita keyakinan penuh ~sebelum kita mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an~ bahwa Al-Qur’an adalah kekayaan paling berharga bagi kita.
Al-Qur’an adalah segalanya bagi kita. Al-Qur’an adalah ruh (nyawa), tanpanya kita adalah mayat yang berjalan. Al-Qur’an adalah cahaya, tanpanya kita buta dalam menapaki kehidupan di dunia. Al-Qur’an adalah petunjuk, tanpanya kita hanyalah binatang ternak yang tersesat.
Keyakinan itu harus kita hadirkan di dalam hati, perasaan dan pikiran kita sebelum kita mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an, untuk selanjutnya mempelajari kandungan maknanya.
Adapun langkah kedua untuk tadabbur Al-Qur’an menurut Syaikh Isham bin Shalih al-Uwayyid adalah memahami sepenuhnya bahwa wahyu Al-Qur’an pada dasarnya ditujukan kepada hati kita. Perintah-perintah, larangan-larangan, dan kisah-kisah di dalam Al-Qur’an pertama dan terutama sekali ditujukan kepada hati kita. Hati kita adalah sasaran pertama dan utama dari firman Allah dalam Al-Qur’an.
Hati adalah unsur yang sangat penting dalam diri setiap manusia. Manusia terdiri dari unsure jasmani dan ruhani. Hati adalah aspek ruhani manusia. Hati adalah raja dari seluruh aspek jasmani manusia. Hati manusia adalah pemegang komando tertinggi atas setiap anggota tubuh nya. Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa salam telah menjelaskan kedudukan hati dalam diri setiap manusia dengan sabdanya:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ، صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah sesungguhnya pada tubuh manusia itu ada sekerat daging, jika sekerat daging itu baik niscaya seluruh anggota tubuh lainnya akan baik dan jika sekerat daging itu rusak, niscaya seluruh anggota tubuh lainnya akan rusak. Ketahuilah, sekerat daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)
Ada banyak dalil syar’i yang membuktikan bahwa wahyu Al-Qur’an pada pokoknya ditujukan kepada hati kita. Pertama, Al-Qur’an pertama kali diturunkan ke dalam hati.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dari sisi Rabb seluruh alam. Ia dibawa turun oleh Ar-Ruh [malaikat Jibril] yang terpercaya. Turun ke dalam hatimu [wahai Muhammad] agar engkau menjadi pemberi peringatan. [turun] dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 192-195)
Dalam ayat di atas secara tegas Allah Ta’ala menyatakan عَلَى قَلْبِكَ “turun ke dalam hatimu”. Allah Ta’ala tidak menyatakan “turun kepada pendengaranmu”, “turun kepada penglihatanmu”, “turun kepada akal pikiranmu” dan lain sebagainya. Penunjukan makna ayat di atas sangat jelas.
Allah juga berfirman Allah Ta’ala:
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ
Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh bagi malaikat Jibril, maka sesungguhnya Jibril telah menurunkannya [Al-Qur'an] ke dalam hatimu dengan izin Allah Ta’ala.” (QS. Al-Baqarah [2]: 97)
Dalam ayat yang mulia ini secara tegas Allah Ta’ala juga menyatakan عَلَى قَلْبِكَ “turun ke dalam hatimu”. Penunjukan makna ayat di atas sangat jelas.
Maka anggota badan manusia yang pertama kali “diajak bicara” oleh Al-Qur’an adalah hati. Jika hati mau mendengarkan dan menerima Al-Qur’an, maka seluruh anggota badan lainnya akan ikut mendengarkan dan menerima Al-Qur’an. Adapun jika hati enggan mendengarkan dan menerima Al-Qur’an, maka seluruh anggota badan lainnya akan ikut enggan mendengarkan dan menerima Al-Qur’an.
Oleh sebab itu Allah Ta’ala telah terlebih dahulu menyiapkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam untuk menerima wahyu Al-Qur’an, sebelum Al-Qur’an itu diturunkan ke hati beliau. Saat beliau berusia kanak-kanak, Allah Ta’ala mengutus dua orang malaikat untuk membelah dada beliau, mengeluarkan gumpalan hitam yang kotor dari dalam hati beliau, mencuci hati beliau dengan air zamzam, dan mengembalikannya seperti sedia kala setelah hati beliau disucikan dari “jatah” godaan setan.
Kisah pembelahan dada beliau pada masa kanak-kanak telah disebutkan oleh semua kitab sejarah nabawiyah.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ، فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ، فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ، فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ، فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً، فَقَالَ: هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ، ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ، ثُمَّ لَأَمَهُ، ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya saat Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa salam [masih kanak-kanak] bermain bersama anak-anak sebayanya, beliau didatangi oleh malaikat Jibril. Jibril mengambil dan membaringkan beliau di tanah, lalu membelah dada beliau dan mengeluarkan hati beliau. Maka Jibril mengeluarkan segumpal darah hitam dari dalam hati beliau. Jibril berkata: “Inilah bagian setan [untuk menggoda] dari dirimu.” Jibril lalu mencuci hati beliau dalam sebuah bejana terbuat dari emas , dengan air zam zam. Jibril kemudian memulihkan hati beliau dan mengembalikannya ke tempatnya semula. (HR. Muslim no. 162)
Sejak usia kanak-kanak, hati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam telah disucikan dari godaan setan. Hati yang murni dan bersih dari hawa nafsu syahwat itulah yang menjadi tempat turunnya wahyu Al-Qur’an yang mulia dan suci.
Disebutkan dalam sejarah bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum merasakan pengaruh Al-Qur’an, pertama kali adalah pada hati mereka. Al-Qur’an dengan telah menyentuh, menghentak dan menyadarkan hati mereka dari buaian kehidupan jahiliyah.
Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya melaksanakan shalat Maghrib bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Saya mendengar beliau membaca surat Ath-Thur. Tatkala bacaan beliau sampai kepada ayat:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ (36)
“Apakah mereka tercipta tanpa usul-usul Ath-Thur ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Apakah mereka yang telah menciptakan langit dan bumi? Justru sebenarnya mereka tidak yakin.” (QS. Ath-Thur [52]: 35-36)
Maka hati saya hampir-hampir copot.” (HR. Bukhari no. 4854 dan Muslim no. 463, dengan lafal Bukhari)
Bacaan ayat-ayat dalam surat Ath-Thur tersebut sangat mengguncangkan hati orang musyrik. Ayat-ayat itu begitu telak menelanjangi keengganan orang-orang musyrik untuk beribadah kepada Allah semata. Bagaimana mereka tidak mau beribadah kepada Allah semata, sementara mereka bukanlah sang pencipta diri mereka sendiri, bukan pula pencipta langit dan bumi, apalagi muncul di bumi tanpa ada Sang Pencipta sebelumnya.
Keengganan mereka beribadah kepada Allah semata bukanlah karena mereka meyakini diri mereka sebagai pencipta atau tercipta begitu saja tanpa ada asal-usulnya. Mereka tidak mau beribadah kepada Allah semata didasari oleh kesombongan dan penentangan mereka terhadap wahyu-Nya. Maka saat ayat-ayat tersebut dibacakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dalam shalat Maghrib, sahabat Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu bisa merasakan efeknya dalam jiwa beliau, sehingga hamper-hampir hati beliau copot. Subhanallah.
Saudaraku seislam dan seiman…
Para sejarawan Islam banyak meriwayatkan dampak bacaan Al-Qur’an terhadap kehidupan banyak manusia, saat Al-Qur’an telah menembus relung hati manusia yang paling dalam.
Inilah kisah taubat seorang ahli ibadah terkenal di zaman tabi’it tabi’in, Abu Ishaq Ibrahim bin Adham bin Manshur al-Ijli. Bapakanya adalah seorang kepala pemerintahan di kota Balkh, Afghanistan. Ia hidup dalam gelimang harta. Namun ia kemudian bertaubat dan menjadi ahli ibadah setelah mendengar bacaan sebuah ayat Al-Qur’an yang menyentuh hatinya.
Yunus al-Balkhi bercerita: “Ibrahim bin Adam adalah seorang tokoh masyarakat yang terpandang. Ayahnya adalah orang yang memiliki banyak harta, pembantu, kuda tunggangan, kuda berburu dan elang-elang pemburu. Pada suatu hari saat sedang berburu di atas kudanya, Ibrahim bin Adham mendengar sebuah suara dari arah atasnya: “Wahai Ibrahim! Untuk apa permainan sia-sia ini?”
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Apakah kalian menyangka bahwa Kami menciptakan kalian secara main-main [tanpa ada pertanggung jawaban di akhirat] dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun [23]: 115)
Suara itu lalu menambahkan: “Bertakwalah kepada Allah! Persiapkanlah bekal untuk menghadapi hari kesulitan!”
Mendengar suara itu, Ibrahim bin Adham pun turun dari kudanya. Ia bertaubat, bersungguh-sungguh dalam beribadah dan meninggalkan kenikmatan hidup duniawi.” (Adz-Dzahabi, Siyaru A’lam an-Nubala’, 7/388)
Saudaraku seislam dan seiman…
Dan inilah kisah taubat seorang perampok besar di zaman tabi’it tabi’in, Abu Ali Fudhail bin Iyadh bin Mas’ud at-Tamimi. Ia seorang perampok terkenal dan ditakuti, namun kemudian bertaubat dan menghabiskan seluruh usianya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala di Masjidil Haram setelah ia mendengar bacaan ayat Al-Qur’an yang menyentuh hatinya.
Fadhl bin Musa berkata: “Fudhail bin Iyadh adalah seorang perampok tenar yang bisa merompak di antara wilayah Abiward dan Sarkhas [Asia Tengah]. Sebab ia bertaubat adalah ia sedang jatuh cinta pada seorang gadis. Suatu saat ia memanjat tembok untuk mencuri-curi pandang gadis pujaan hatinya. Tiba-tiba ia mendengar seseorang membaca ayat Al-Qur’an:  
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ
“Belum tibakah saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyu’ hati mereka karena dzikir [mengingat dan menyebut nama] Allah dan kebenaran [Al-Qur'an] yang turun…” (QS. Al-Hadid [57]: 16)
Mendengar bacaan ayat tersebut, Fudhail berkata: “Ya, sudah tiba saatnya, wahai Rabbku.”
Fudhail bin Iyadh segera turun dan pergi. Kegelapan malam membuatnya beristirahat pada sebuah bangunan yang sepi dan nampak kosong. Ternyata di dalamnya ada satu rombongan pedagang yang kemalaman di jalan.
Sebagian pedagang itu berkata: “Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita.”
Namun sebagian lainnya menolak: “Jangan! Kita lanjutkan besok pagi saja, sebab di jalan ada Fudhail bin Iyadh yang bisa merampok kita.”
Mendengar ucapan rombongan itu, Fudhail bin Iyadh tertegun. Fudhail bin Iyadh bercerita:
فَفَكَّرْتُ، وَقُلْتُ: أَنَا أَسْعَى بِاللَّيْلِ فِي المَعَاصِي، وَقَوْمٌ مِنَ المُسْلِمِيْنَ هَا هُنَا يَخَافُونِي، وَمَا أَرَى اللهَ سَاقَنِي إِلَيْهِم إِلاَّ لأَرْتَدِعَ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ قَدْ تُبْتُ إِلَيْكَ، وَجَعَلْتُ تَوْبَتِي مُجَاوَرَةَ البَيْتِ الحَرَامِ.
“Aku pun berfikir. Dalam hati kukatakan: ‘Aku berjalan [bekerja] di malam hari dalam kemaksiatan, sementara sekelompok kaum muslimin berada di sini ketakutan terhadapku. Menurutku, Allah menuntunku kepada mereka semata-mata agar aku jera. Ya Allah, sesungguhnya aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku akan membuktikan taubatku dengan beribadah di dalam Masjidil Haram.” (Adz-Dzahabi, Siyaru A’lam an-Nubala’, 8/423)
Saudaraku seislam dan seiman…
Kita harus senantiasa memperbaiki dan membersihkan hati kita. Itulah langkah kedua jika kita ingin mendapatkan pengaruh nyata dari ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca lafalnya dan kita pelajari kandungan maknanya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Doa-doa "mudik lebaran" (bagian 1)

Doa-doa "mudik lebaran" (bagian 1)

(Arrahmah.com) – Sudah menjadi tradisi kaum muslimin di tanah air untuk melakukan acara “mudik lebaran” setiap tahun. Mulai pertengahan sampai akhir bulan suci Ramadhan, jutaan kaum muslimin yang bekerja di kota-kota besar dan tanah perantauan melakukan perjalan jauh “mudik lebaran”. Mereka kembali ke kampong halaman untuk merayakan hari raya Idul Fitri dan bersilaturahim dengan anggota keluarga dan sanak kerabat.
Selain sebagai sebuah tradisi, “mudik lebaran” juga bernilai ibadah manakala diniatkan untuk menyambung tali silaturahmi, berbakti kepada orang tua dan dikerjakan sesuai dengan panduan syariat Islam.
Salah satu aspek penting yang harus diperhatikan oleh para pemudik adalah tetap menjaga kontinuitas ibadah selama dalam perjalanan. Shalat wajib lima waktu secara jama’ dan qashar, membaca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, dan mendengarkan taushiyah via radio, adalah sebagian ibadah mahdhah yang tetap bisa dilakukan selama dalam perjalanan.
Tentunya doa-doa selama dalam perjalanan merupakan unsur penting lainnya yang tidak boleh di lupakan. Berikut ini beberapa doa yang berkaitan dengan perjalanan jauh dan menaiki kendaraan selama “mudik lebaran”.

Doa orang yang di rumah (ditinggal bepergian jauh) kepada orang yang bepergian

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
“Aku menitipkan agamamu, amanatmu (keluarga dan hartamu) dan penutup-penutup amalmu kepada Allah semata.” (HR. Tirmidzi no. 3443, Abu Daud no. 2600, Ibnu Majah no. 2826 dan Ahmad no. 4524, hadits shahih)
«زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ حَيْثُ مَا كُنْتَ»
“Semoga Allah memberimu bekal takwa, mengampuni dosamu dan memudahkan kebaikan untukmu di manapun engkau berada.” (HR. Tirmidzi no. 3444, Al-Hakim no. 2477, dan Ibnu Khuzaimah no. 2532. Imam Tirmidzi dan Syaikh Musthafa al-A’zhami berkata: Hadits hasan)

Doa orang yang bepergian jauh kepada orang yang ditinggal bepergian (di rumah)

«أَسْتَوْدِعُكَ اللهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ»
“Aku menitipkanmu kepada Allah yang titipan-titipan pada-Nya tidak akan terlantar.” (HR. Ibnu Majah no. 2825, Ahmad no. 9230, Ibnu Suni dalam Amalul Yaum wal Lailah no. 505 dan An-Nasai dalam Amalul Yaum wal Lailah no. 508. Syaikh Syuaib al-Arnauth berkata: Hadits ini shahih li-ghairih)

Doa naik kendaraan

Ketika naik ke kendaraan, mengucapkan:
«بِسْمِ اللهِ»
“Dengan nama Allah”
Lalu setelah duduk di atas kendaraan, membaca doa:
«الْحَمْدُ لِلهِ»، {سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ} «الْحَمْدُ لِلهِ الْحَمْدُ لِلهِ الْحَمْدُ لِلهِ » «اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ » «سُبْحَانَكَ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ»
“Segala puji bagi Allah.”
“Maha Suci Allah Yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami dan tidaklah kami mampu menundukkannya, dan hanya kepada Rabb kami sajalah kami benar-benar akan kembali.” ~ QS. Az-Zukhruf [43]: 13-14 ~
“Segala puji bagi Allah.  Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar.”
“Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa selain Engkau.” (HR. Abu Daud no. 2602, Tirmidzi no. 3446 dan Ahmad no. 753. Imam Tirmidzi berkata: Hadits hasan shahih. Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata: Hadits hasan li-ghairih)

Doa saat berangkat bepergian

Setelah duduk dengan tenang di atas kendaraan dan kendaraan hendak berangkat, maka hendaknya membaca doa:
 «اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ » «سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ»”
“Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar.”
“Segala puji bagi Allah. Maha Suci Allah Yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami dan tidaklah kami mampu menundukkannya, dan hanya kepada Rabb kami sajalah kami benar-benar akan kembali.” ~ QS. Az-Zukhruf [43]: 13-14 ~
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan, ketakwaan dan amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah [ringankanlah] perjalanan kami ini dan lipatkanlah [dekatkanlah] jaraknya yang jauh.
Ya Allah, Engkaulah yang menemani [orang yang berpergian selama] dalam perjalanan dan Engkaulah yang mengurusi keluarga yang ditinggalkan [oleh orang yang berpergian].
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesulitan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan dan kondisi buruk pada keluarga dan harta saat kami kembali [tiba di tujuan].”  (HR. Muslim no. 1342, Abu Daud no. 2599 dan Tirmidzi no. 3447)

Doa saat kendaraan menanjak dan menurun

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: ” كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا هَبَطْنَا سَبَّحْنَا “
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami bepergian jauh bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Jika kami menaiki jalanan menanjak, kami membaca takbir dan jika kami menuruni jalanan yang menurun, kami membaca tasbih.”(HR. Bukhari no. 2993, Ad-Darimi no. 2674 dan Ahmad no. 14568, dengan lafal Ahmad)

Doa saat kendaraan tergelincir atau mogok

بِسْمِ اللهِ
“Dengan nama Allah.” (HR. Abu Daud no. 4982, Ahmad no. 20591, dan Al-Hakim 7792. Dishahihkan oleh imam Al-Hakim, Adz-Dzahabi dan syaikh Syuaib al-Arnauth)

Seni mentadabburi Al-Qur'an (bagian 1)

Seni mentadabburi Al-Qur'an (bagian 1)

(Arrahmah.com) – Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan umat Islam untuk merenungkan dan mempelajari makna ayat-ayat Al-Qur’an, serta mengulang-ulang pengkajian terhadapnya. Allah Ta’ala berfirman:
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافاً كَثِيراً
Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapati di dalam Al-Qur’an itu pertentangan yang banyak.” (QS. An-Nisa’ [4]: 82)
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلى قُلُوبٍ أَقْفالُهَا
Maka kenapa mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Ataukah hati mereka ada gembok-gembok yang menguncinya?” (QS. Muhammad [47]: 24)
Dalam ayat yang kedua, Allah Ta’ala menjelaskan penyebab yang menghalangi seorang muslim dari mentadabburi Al-Qur’an, yaitu keberadaan “gembok-gembok” yang banyak, yang membuat hati terkunci mati. Akibatnya hati seseorang akan “mati”, lalai, jauh dari Allah Ta’ala. Cahaya kebenaran Al-Qur’an tidak sanggup masuk ke dalam hati tersebut, dan petunjuknya tidak mampu membimbing hati tersebut.
Allah Ta’ala mengajak hamba-hamba-Nya untuk memecahkan gembok-gembok penghalang tersebut, menyingkirkannya dan membuka pintu hati untuk masuknya cahaya Al-Qur’an. Jika cahaya Al-Qur’an telah memasuki hati, niscaya hati akan terang benderang, cemerlang dan hidup di bawah bimbingan wahyu Allah Ta’ala.
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang sangat mengagumkan dan penuh mukjizat. Al-Qur’an sungguh sangat mengagumkan, penunjukan makna-makna ayatnya sangat kaya, perbendaharaan dan kekayaannya sangat berharga, arahan-arahan dan bimbingan-bimbingannya sangat hidup, tujuan-tujuannya sangat kuat, tugas dan misinya sangat realistis, peranan dan pengaruhnya dalam kehidupan sangat efektif.
Al-Qur’an adalah kitab suci yang penuh mukjizat. Gaya bahasa dan kandungan petunjuknya adalah mukjizat. Al-Qur’an bak sumber mata air yang terus mengalirkan karunianya tanpa pernah berhenti. Kaum muslimin dalam setiap masa perjalanan sejarahnya mengkajinya, maka mereka mendapatkan lebih dari apa yang mereka kehendaki. Mereka membaca dan mentadabburinya. Mereka mengkaji nash-nash ayatnya dan hidup bersamanya, mereka menafsirkan ayat-ayatnya dan menjelaskan syariat-syariatnya. Mereka memperbincangkan petunjuknya, mengeluarkan perbendaharaan “kekayaannya” dan memetik “buah-buahan”nya. Para ulama, ahli tafsir dan orang yang mentadabburi al-Qur’an dalam setiap generasi akan mendapatkan semua hal tersebut. Mereka mencatat dan mendokumentasikannya dalam setiap masa.
Setiap masa dan generasi, Al-Qur’an senantiasa mencurahkan limpahan petunjuk dan bimbingannya, kebijaksanaan dan perbendaharaan ilmunya. Walaupun jumlah orang yang mempelajarinya terus bertambah, luapan ilmu dan petunjuk Al-Qur’an tak pernah berkurang. Justru semakin bertambah dan bertambah, sebab Al-Qur’an adalah lautan petunjuk yang tidak pernah kering.    
Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu telah menggambarkan Al-Qur’an dengan bahasa yang sangat tepat nan indah. Beliau mengatakan:
كِتَابُ اللَّهِ، كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ نَبَأُ مَا قَبْلَكُمْ، وَخَبَرُ مَا بَعْدَكُمْ، وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ، هُوَ الْفَصْلُ لَيْسَ بِالْهَزْلِ، هُوَ الَّذِي مَنْ تَرَكَهُ مِنْ جَبَّارٍ، قَصَمَهُ اللَّهُ، وَمَنْ ابْتَغَى الْهُدَى فِي غَيْرِهِ، أَضَلَّهُ اللَّهُ، فَهُوَ حَبْلُ اللَّهِ الْمَتِينُ، وَهُوَ الذِّكْرُ الْحَكِيمُ، وَهُوَ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ، وَهُوَ الَّذِي لَا تَزِيغُ بِهِ الْأَهْوَاءُ، وَلَا تَلْتَبِسُ بِهِ الْأَلْسِنَةُ، وَلَا يَشْبَعُ مِنْهُ الْعُلَمَاءُ، وَلَا يَخْلَقُ عَنْ كَثْرَةِ الرَّدِّ، وَلَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ، وَهُوَ الَّذِي لَمْ يَنْتَهِ الْجِنُّ إِذْ سَمِعَتْهُ أَنْ قَالُوا: {إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا} [الجن: 1] هُوَ الَّذِي مَنْ قَالَ بِهِ صَدَقَ، وَمَنْ حَكَمَ بِهِ عَدَلَ، وَمَنْ عَمِلَ بِهِ أُجِرَ، وَمَنْ دَعَا إِلَيْهِ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Kitab Allah. Kitab Allah, di dalamnya ada berita tentang umat-umat sebelum kalian, kabar tentang umat-umat setelah kalian dan keputusan hukum tentang perselisihan di antara kalian. Dia adalah pemberi kata putus yang serius dan tidak main-main. Siapapun orang yang kuat (sombong) menjauhinya, niscaya Allah akan mematahkannya. Siapapun yang mencari petunjuk pada selainnya, niscaya Allah akan menyesatkan dirinya.
Ia adalah tali Allah yang kuat, peringatan yang penuh hikmah, dan jalan yang lurus. Ia tidak akan bisa diselewengkan oleh hawa nafsu, tidak bisa dicampur adukkan dengan karangan (ucapan) manusia dan para ulama tidak akan pernah puas mempelajarinya. Ia tidak pernah lapuk walau sering dibaca berulang-ulang, keajaiban-keajaibannya tak akan pernah terputus, dan bangsa jin saat mendengar pembacaan Al-Qur’an tidak tahan untuk segera berkomentar, “Sungguh kami telah mendengarkan sebuah bacaan yang mengagumkan.” (QS. Al-Jinn [72]: 1)  
Barangsiapa berbicara dengannya, niscaya ia telah berkata jujur. Barangsiapa memutuskan perkara dengannya, niscaya ia telah berlaku adil. Barangsiapa mengamalkannya, niscaya ia mendapat pahala. Dan barangsiapa mengajak kepadanya, niscaya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (HR. Ad-Darimi no. 3374. Dalam sanadnya ada dua perawi yang tidak dikenal; Abul Mukhtar Sa’ad at-Thai dan Ibnu Akhi al-Harits)
Sungguh benar… para ulama tidak akan pernah puas mempelajarinya dan keajaiban-keajaiban Al-Qur’an tidak akan pernah putus. Para ulama Islam dari setiap generasi dan masa, telah mempelajari dan mentadabburi Al-Qur’an. Jumlah para ulama tersebut sangat banyak, wawasan dan sudut pandang mereka dalam mempelajari Al-Qur’an juga beragam. Setiap kali mereka mengkaji Al-Qur’an, mereka selalu menemukan ilmu dan hikmah baru dari Al-Qur’an. Mereka telah membukukan hasil-hasil kajian mereka tersebut. Namun ulama-ulama generasi berikutnya dan masa berikutnya juga membukukan hasil-hasil baru dari kajian mereka terhadap Al-Qur’an. Demikianlah, semakin Al-Qur’an dipelajari, maka semakin banyak, beragam dan luas pula ilmu yang berhasil digali dari Al-Qur’an.
Seorang muslim yang mampu berinteraksi dan mentadabburi Al-Qur’an dengan baik, niscaya akan menemukan makna-makna baru dan ilmu-ilmu baru dari Al-Qur’an. Ia akan menemukan kandungan-kandungan petunjuk dan hikmah baru yang belum didapatkan oleh para ulama pada generasi dan masa waktu sebelumnya. Ia akan menemukan tambahan-tambahan perbendaharaan dan kekayaan yang baru dari Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an adalah mata air yang tak pernah kering dan lautan ilmu yang tak bertepi. Al-Qur’an akan terus memberi dan memberi, kepada orang-orang yang mau mengkaji dan mentadabburinya.
Sesungguhnya setiap generasi dan masa waktu menghadapi persoalan-persoalan yang baru dalam kehidupannya, yang belum ditemui pada generasi dan masa waktu sebelumnya. Persoalan-persoalan baru tersebut menuntut jawaban dari Al-Qur’an dan as-sunnah, oleh karenanya pengkajian terhadap Al-Qur’an ~dan tentu saja juga as-sunnah~ akan senantiasa diperlukan oleh ulama dan kaum muslimin pada setiap generasi dan masa waktu.
Tadabbur Al-Qur’an dengan demikian diperlukan oleh setiap ulama dan setiap muslim dalam setiap waktu, guna menjawab berbagai pertanyaan kehidupan, menyelesaikan berbagai problematika mereka, menjawab serangan syubhat-syubhat musuh Islam, dan menguatkan hubungan kaum muslimin dengan Al-Qur’an, tali Allah yang sangat kuat.
Dalam zaman kehidupan kita saat ini, kita sangat perlu untuk mengeratkan interaksi kita dengan Al-Qur’an ~dan tentu juga dengan as-sunnah~. Kita perlu banyak-banyak membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya, menafsirkan dan memahaminya, bergerak dengan bimbingan dan petunjuknya, mengeluarkan mutiara-mutiara ilmu dan hikmahnya, memerangi musuh-musuh Islam dengan arahannya, memperbaiki diri sendiri dan umat kita dengan petunjuknya, dan menegakkan seluruh tatanan serta pedoman hidup kita dalam segala bidang kehidupan kita di atas landasan, aturan dan arahan Al-Qur’an.